Breaking News

Kemarau Tapi Hujan! Ini Pemicunya


Sedudoshare - Pada bulan september 2020 ini, sebanyak 5,21% wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, akan tetapi masih terjadi hujan (di atas normal dibanding iklim pada tahun 1980-2020). Fenomena kemarau tapi hujan ini disebut 'kemarau basah'.

Hal ini di ungkapkan oleh Badan Metreologi, Klimotologi dan Geofisika (BMKG) berdasar analisis tahun 2020.

Deputi Bidang Klimotologi (BMKG), Drs Herizal Msi menyebutkan kondisi kemarau basah disebabkan oleh berbagai indikator atau kondisi atmosfer bumi yang ada, pemicunya meliputi:

1. Kondisi ENSO netral

Hasil monitoring indikator anomali iklim Samudra Pasifik, suhu muka laut wilayah indikator ENSO Nino 3,4 dalam kondisi netral.

Yang dimaksud kondisi netral ini adalah karena fluktuasi suhu muka laut tidak menyimpang lebih dari 0,5 derajat celcius dari rata-rata normal klimotologisnya.

Herizal berkata, sebagian besar lembaga meteorologi dunia memprediksikan anomali suhu muka laut di Nino 3.4 sampai akhir tahun berkisar antara Netral dan La Nina lemah.

Untuk diketahui, kondisi La Nina lemah dinyatakan apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin yaitu sekitar minus 0,5 sampai dengan minus 1,0 derajat celcius dari normal klimatologisnya. "Apabila kondisi La Nina dapat terjadi, hal tersebut dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia," jelas dia.

Hal inilah yang menyebabkan musim kemarau terkesan lebih basah, karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya.

2. Kondisi IOD+ kembali netral

Berdasarkan monitoring anomali iklim Samudera Hindia, menunjukkan beda suhu muka laut Perairan timur Afrika dan sebelah barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif (IOD+) pada pertengahan Juni 2020 kemarin. Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali netral pada Juli hingga November 2020.

3. Suhu muka laut

"Monitoring terhadap kondisi suhu muka laut perairan Indonesia menunjukkan kondisi normal, dengan kisaran anomali suhu muka laut antara -0,5 hingga +2 derajat celcius," kata dia.

Suhu muka laut yang hangat atau anomali positif terjadi di perairan timur Sumatera, perairan selatan Jawa, Laut Banda dan perairan utara Papua.

Herizal mengatakan, dari berbagai kondisi tersebut diperkirakan akan menjadikan musim kemarau di sebagian Bumi Indonesia akan cenderung basah, mencapai sekitar 50 persen wilayah. "Namun perlu tetap diwaspadai adanya potensi kekeringan di 30 persen wilayah Zona Musim (ZOM)," tuturnya.

Source of Writing: Berbagai Media

Tidak ada komentar