Breaking News

Islam Madep Ngulon dan Islam Madep Ngetan

arah kiblat

Sedudoshare - Suriname salah satu negara di Amerika Serikat, Fakta singkat Suriname, secara resmi bernama Republik Suriname, dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Prancis di timur dan Guyana di barat.


Suriname masih ada muslim Jawa yang salatnya menghadap ke dua kiblat.

Seperti unggahan TikTok @agustinusjourney atau Agustinus yang menceritakan saat dirinya berada di Belanda. Dia bertemu dengan seorang pemimpin komunitas Jawa Suriname namanya Hariette Mingoen.


"Dia (Hariette Mingoen) memberitahu saya, 'Mas Agus, di Suriname itu muslim jawa salatnya ada 2 kiblat, sebagian salatnya hadap ke barat, sebagian salatnya hadap ke timur. Ini dikenal sebagai islam madep ngulon dan islam madep ngetan'," ungkap Agustinus menirukan Hariette Mingoen. 

Agustinus juga menjelaskan jika dilihat dari letak geografisnya, Suriname terletak di sebelah barat Makkah.

 "Jadi logikanya mereka (muslim Jawa di Suriname) salatnya harus menghadap ke timur," kata Agustinus.

Lantas kenapa masih banyak muslim jawa di Suriname yang salatnya hadap ke barat?

"Jawabannya, karena nenek moyang mereka di Jawa salatnya hadap ke barat, jadi biarpun mereka sudah berpindah lebih 10.000 km. Dari jawa sampai ke Amerika Selatan. Mereka salatnya tetap hadap ke barat," tandas Agustinus.

Diketahui, Paramaribo Suriname atau dulunya disebut Guyana Belanda, adalah negara jajahan Belanda yang berada di Amerika Tengah. Negara yang berbatasan langsung dengan Brazil itu, memiliki iklim tropis, sama seperti Indonesia, karena sama-sama dilalui garis Khatulistiwa.

Di Suriname, jumlah penduduk bersuku Jawa dan berasal dari Indonesia (Hindia Belanda) sebanyak 71.879 orang dan mayoritas beragama Islam.  

Melansir laporan Republika, Dr Isaac Jamaluddin, Ketua Majelis Muslimin Suriname salah satu organisasi Islam terbesar di Suriname, warga muslim tidak kendur, bahkan semakin antusias mempelajari ajaran agama. 

"Itu sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir,” katanya.

Meski begitu, mereka masih menemui kendala. Pengajaran agama Islam terbentur oleh keterbatasan tenaga pengajar serta material yang diperlukan, seperti buku-buku agama. Kedua problem ini belum sepenuhnya teratasi, mengingat dana yang juga terbatas. 

"Tidak seperti umat lain, mayoritas umat Islam berasal dari kelas menengah bawah. Sehingga, terkadang, kami kesulitan memenuhi keperluan untuk pengajaran agama ini,” ujar Jamaluddin.

Source of Writing: JatimTimes

Tidak ada komentar