Breaking News

Tuhan Tidak Tuli: Perlukah Ngaji Pakai Toa Keras?

Tuhan Tidak Tuli

Ngaji & Tadarus Tanpa Toa, Lebih Khusyuk & Beradab


🔊 Tuhan Tidak Tuli: Bisakah Tadarus dan Ngaji Tanpa Pengeras Suara Toa?

🕌 Pengantar: Antara Ibadah dan Kenyamanan Sosial

Di banyak kampung di Indonesia, suara tadarus dan ngaji dari masjid atau mushola menjadi ciri khas suasana religius, terutama saat bulan Ramadhan. Lantunan ayat suci terdengar melalui pengeras suara toa, menggema hingga ke sudut-sudut desa.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup sensitif namun penting:

“Apakah ibadah harus selalu menggunakan pengeras suara? Tuhan tidak tuli, bukan?”

Pertanyaan ini bukan soal menentang agama, melainkan soal menjaga keseimbangan antara ibadah dan kenyamanan sosial di tengah masyarakat yang beragam.



📖 Hakikat Ibadah dalam Islam: Antara Suara dan Keikhlasan

Dalam ajaran Islam, ibadah sejatinya adalah hubungan langsung antara hamba dengan Allah. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa Allah Maha Mendengar, bahkan terhadap doa yang diucapkan dalam hati.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…” (QS. Al-Baqarah: 186)

Artinya, kualitas ibadah tidak diukur dari kerasnya suara, tetapi dari ketulusan, kekhusyukan, dan niat hati.



🔈 Fenomena Toa Masjid: Tradisi atau Kebutuhan?

Penggunaan pengeras suara sebenarnya memiliki fungsi yang jelas, seperti:

  • Mengumandangkan adzan

  • Memberikan informasi penting

  • Mengajak masyarakat berkumpul untuk ibadah

Namun dalam praktiknya, penggunaan toa sering meluas hingga:

  • Tadarus sepanjang malam

  • Ngaji anak-anak dengan suara keras

  • Ceramah berjam-jam dengan volume tinggi

Hal ini kadang menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi:

  • Lansia yang butuh istirahat

  • Bayi dan anak kecil

  • Orang sakit

  • Pekerja malam yang butuh tidur siang



⚖️ Perspektif Sosial: Ibadah yang Tidak Mengganggu

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin — membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk sesama manusia.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan:

“Janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al-Qur’an hingga mengganggu yang lain.”

Pesan ini menunjukkan bahwa menghormati kenyamanan orang lain juga bagian dari akhlak dalam beribadah.

Hadis ini diriwayatkan dalam:

➡️ Sunan Abu Dawud (No. 1332)
➡️ Juga ada dalam Musnad Ahmad


🕌 Bunyi Hadis (Makna/Isi)

Rasulullah ﷺ keluar menemui para sahabat yang sedang shalat dan membaca Al-Qur’an dengan suara keras, lalu beliau bersabda:

“Sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan atas yang lain hingga saling mengganggu.”



🤔 Apakah Ngaji dan Tadarus Bisa Tanpa Toa?

Jawabannya: Bisa, dan tetap sah secara agama.

Ngaji dan tadarus tidak membutuhkan pengeras suara agar bernilai ibadah. Bahkan dalam banyak kondisi, tanpa toa justru lebih khusyuk dan fokus.

Alternatif yang bisa diterapkan:

✔ Menggunakan pengeras suara hanya untuk adzan dan pengumuman penting
✔ Tadarus menggunakan speaker dalam ruangan saja (internal)
✔ Mengatur jam penggunaan toa agar tidak terlalu larut malam
✔ Menjaga volume tetap wajar dan tidak memekakkan telinga



🧠 Menumbuhkan Kesadaran Baru: Ibadah yang Bijak dan Beradab

Zaman sudah berubah. Lingkungan masyarakat kini lebih padat, lebih beragam, dan lebih sensitif terhadap kebisingan.

Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif bahwa:

👉 Ibadah bukan hanya soal ritual
👉 Tapi juga soal etika sosial dan toleransi

Masjid dan mushola bisa menjadi pusat kebaikan, bukan sumber keluhan.



🌙 Refleksi: Tuhan Maha Mendengar, Manusia Perlu Dihargai

Kalimat “Tuhan tidak tuli” bukanlah bentuk penolakan terhadap ibadah, melainkan pengingat bahwa:

  • Allah mendengar doa bahkan dalam bisikan

  • Allah melihat niat bahkan dalam diam

  • Allah menilai hati, bukan volume suara

Maka alangkah indahnya jika ibadah dilakukan dengan tenang, khusyuk, dan tidak mengganggu orang lain.



✨ Penutup: Menjaga Harmoni Antara Langit dan Bumi

Ngaji dan tadarus adalah amalan mulia. Tapi akan lebih mulia lagi jika dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan sesama manusia.

Karena sejatinya, agama tidak hanya mengajarkan kita untuk dekat dengan Tuhan, tapi juga untuk menjadi manusia yang berakhlak dan peduli terhadap sekitar.

Mari kita jaga masjid tetap hidup, tanpa harus membuat lingkungan menjadi gaduh.

Tidak ada komentar